Ini adalah salah satu pengalaman hidup
yang penting banget saya syukuri. Ya, saya beruntung (sempat) hidup sebagai
anak kampung, bermain sepanjang hari, mulai dari bola di pagi hari, gundu atau
gambaran di siang hari, kembali bola di sore hari, dan malam hari kami (saya
dan teman-teman) bermain maling-malingan. Rutinitas semacam itu biasa kami
lakukan jika libur sekolah tiba. Amat menyenangkan! Nggak heran jika saya cukup
sering bilang ke teman-teman kalo masa kecil saya cukup menyenangkan dan akan
sangat antusias apabila saya diberi kesempatan untuk menceritakannya ke mereka.
Barangkali mereka bosan setiap kali saya menggebu-gebu bercerita jika waktu
kecil saya bersama teman suka bermain sepeda jauh-jauh, lengkap memakai topi
dan membawa air, mengejar layang-layang dan ketika dapat akan kami robek
bersama-sama, mencari ikan di kali dan encu (jentik nyamuk) di got untuk makan
ikan cupang, dan banyak hal lainnya. Namun, sama sekali saya nggak pernah
bosen. Ada pengalaman menyenangkan yang kembali muncul ketika saya bercerita
pengalaman masa kecil bersama teman-teman, termasuk saat ini.
Kemarin saya dan teman-teman masa kecil
kembali berkumpul. Bersama jamaah masjid kami pergi ke salah satu tempat wisata
di Jawa Barat. Ketika ditawarkan untuk ikut sebenarnya saya agak bingung untuk
ikut atau enggak, takut-takut ada kesibukan kampus yang nggak bisa ditinggal.
Namun, setelah dipikir-pikir sudah cukup lama tak berkumpul bersama mereka
akhirnya saya mengiyakan untuk ikut lagi pula emang ternyata belum ada
kesibukan kampus. Jalan-jalan abis Lebaran emang biasa menjadi salah satu
rutinitas kami. Maklum, hampir semua dari kami merupakan anak Betawi asli yang
emang nggak punya kampung. Lebaran sehari dua hari paling kelar, setelahnya
akan bengong-bengong di rumah atau tongkrongan (depan warung). Dahulu, objek
wisata kami adalah kolam renang di Pondok Indah. Benar adanya kalo anak Betawi
gede gengsi, nggak mau teman-teman saya diajak berenang di kolam renang biasa maunya
di-yang-agak-mahal. Renang di Pondok Indah waktu itu ukurannya emang masih
cukup mahal. Nggak mau rugi, kami akan berenang hingga Maghrib tiba.
Bertahun-tahun seperti itu, menjelang besar dikit objek wisata kami pun ganti.
Kali ini kami mau yang agak jauh dan di luar Jakarta, Bandung jadi objek yang
berikutnya. Rutinitas semacam ini berhenti ketika kami beranjak dewasa.
Beberapa teman sudah bekerja sehingga sulit mengatur jadwal untuk kembali
berekreasi bersama.
Alhamdulillah kemarin beberapa teman ikut,
walaupun sebenarnya jalan-jalan kali ini diprakarsai bukan oleh kami melainkan
pihak masjid. Salah satu pertimbangan saya ikut memang berapa banyak
teman-teman yang ikut. Tawa mulai pecah ketika kami berkumpul di masjid lalu
berjalan menuju tempat parkir bus. Ada saja istilah dan kata-kata lucu yang
dibuatnya. Mungkin kalo mereka dites tingkat kreativitasnya dengan menggunakan
TKV Ibu Munandar akan cukup tinggi tingkat kreativitas verbal mereka. Ohya
sekali lagi, percayalah kalo anak Betawi memang gede gengsi. Hari ini kami akan
jalan-jalan menggunakan bus yang cukup mahal dan saya yakin itu atas usul
teman-teman saya. Nggak akan mereka mau ikut kalo bukan naik si "Burung
Besar".
Kami semua duduk di bangku belakang.
Mping, saya, Abo, Betet, Benga, Nuang, dan Kiki duduk berjejer agak acak dari
yang seharusnya. Kalo di kampus saya adalah salah satu anak paling koplak, maka
di rumah saya kalah saing dengan mereka. Meminjam term klasifikasi jenis
temparemen anak maka saya masuk ke golongan slow
to warm-up yang artinya agak
lambat 'panas'. Di awal perjalanan saya diem, sekedar tawa-tawa kalo mereka
pada ngebanyol. Nggak jauh dari kami duduk kebetulan ada marbot (penjaga)
masjid yang duduk bersama kecengannya. Kiranya itu cukup jadi stimulasi yang
bikin kami (termasuk saya) tawa ngakak di dalam bus selama perjalanan. Saya
yang tadinya cuma diam sambil membaca buku pun sudah mulai berani
ngebanyol.
Walaupun di luar bus kami berpisah dengan
si marbot dan kecengannya, bukan berarti kami tanpa tawa. Rasanya apa yang akan
dilakukan bersama mereka memang penuh tawa, cukup banyak stimulasi yang bisa
dijadikan bahan tawa. Ketika kami usai makan di salah satu tempat makan, salah
satu teman bertanya pada Mba Pramusaji, "Kak rumah hantu dimana ya?"
Memanggil dengan istilah kakak adalah salah satu modus yang dilakukan oleh
teman saya. Si Mba menjelaskan rumah hantu dimana dengan tangannya. Usai
dijawab teman kembali bertanya, kali ini hanya untuk ngeledek "Kalo rumah
saya dimana Ka?" Tanpa sempat si Mba menjawab kami pun berjalan sambil
tawa ngakak. Selama berjalan menuju rumah hantu pun ada-ada saja yang dikatakan
mereka yang kalo saya ceritain di sini pasti jadi agak kurang lucu.
Tiket rumah hantu sudah di tangan. Kami
masuk berbarengan dengan saling memegang pundak. Semenjak dari luar kami memang
menetapkan bahwa tujuan kami masuk rumah hantu sekedar untuk
"ngerjain" hantu di dalam. Agak aneh? Memang! Itulah teman-teman saya.
Benar saja, di dalam rumah hantu si hantu abis "dikerjain" oleh
teman-teman. Kami berteriak berlebihan dan akan meninju apabila si hantu adalah
sosok manusia. Benar-benar sungguh malang nasib si hantu. Kami kembali menuju
tempat berkumpul, tidur di rumput dengan sepoy angin sambil saling ngebanyol
satu sama lain. Sejenak situasi menjadi hening ketika beberapa dari kami tidur
pulas. Tawa kembali pecah selama perjalanan pulang. Lagi, si marbot masjid jadi
bahan ledekan kami.
Walaupun selama perjalanan pulang rasanya
perut saya sakit bukan main, saya nggak melewatkan satu pun momen koplak untuk
dinikmati. Bergabung bersama mereka benar-benar hiburan sebelum segala
kesibukan kampus datang. Bukan berarti kesibukan kampus nggak bisa menghibur
tapi mereka (teman-teman) saya punya cara berbeda untuk menghibur. Seperti yang
kemudian saya tulis di twitter,
"di kampus emang punya teman untuk koplakan bareng-bareng, tapi koplaknya
teman rumahlah yang jawara!" Tak perlu banyak penjelasan yang harus
diberikan ketika sedang koplak-koplakan bersama teman rumah. Sangat berbeda
dengan teman kampus yang ketika diajak bercanda suka nggak ngeh atau suka
nanya, "kok begitu?" HAHAHA
Sesungguhnya tak hanya tawa yang saya
dapat dari mereka, namun juga sudut pandang dalam melihat satu masalah.
Setidaknya saya jadi tahu bagaimana anak-enggak-kuliah memandang masalah A dan
anak-kuliahan memandang masalah A, bagaimana anak-kampung memandang masalah B
dan anak-rumahan memandang masalah B, bagaimana teman rumah berbicara soal
praktik dan teman kampus berbicara soal teori. Entah mana yang lebih baik,
namun yang pasti itu cukup bagi saya untuk belajar menyeimbangkan diri dan
sudut pandang. Beruntung sekali berteman dengan mereka. Beruntung sekali
menjadi anak kampung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar