Minggu, 26 Agustus 2012

Beruntungnya Menjadi Anak Kampung


Ini adalah salah satu pengalaman hidup yang penting banget saya syukuri. Ya, saya beruntung (sempat) hidup sebagai anak kampung, bermain sepanjang hari, mulai dari bola di pagi hari, gundu atau gambaran di siang hari, kembali bola di sore hari, dan malam hari kami (saya dan teman-teman) bermain maling-malingan. Rutinitas semacam itu biasa kami lakukan jika libur sekolah tiba. Amat menyenangkan! Nggak heran jika saya cukup sering bilang ke teman-teman kalo masa kecil saya cukup menyenangkan dan akan sangat antusias apabila saya diberi kesempatan untuk menceritakannya ke mereka. Barangkali mereka bosan setiap kali saya menggebu-gebu bercerita jika waktu kecil saya bersama teman suka bermain sepeda jauh-jauh, lengkap memakai topi dan membawa air, mengejar layang-layang dan ketika dapat akan kami robek bersama-sama, mencari ikan di kali dan encu (jentik nyamuk) di got untuk makan ikan cupang, dan banyak hal lainnya. Namun, sama sekali saya nggak pernah bosen. Ada pengalaman menyenangkan yang kembali muncul ketika saya bercerita pengalaman masa kecil bersama teman-teman, termasuk saat ini.

Kemarin saya dan teman-teman masa kecil kembali berkumpul. Bersama jamaah masjid kami pergi ke salah satu tempat wisata di Jawa Barat. Ketika ditawarkan untuk ikut sebenarnya saya agak bingung untuk ikut atau enggak, takut-takut ada kesibukan kampus yang nggak bisa ditinggal. Namun, setelah dipikir-pikir sudah cukup lama tak berkumpul bersama mereka akhirnya saya mengiyakan untuk ikut lagi pula emang ternyata belum ada kesibukan kampus. Jalan-jalan abis Lebaran emang biasa menjadi salah satu rutinitas kami. Maklum, hampir semua dari kami merupakan anak Betawi asli yang emang nggak punya kampung. Lebaran sehari dua hari paling kelar, setelahnya akan bengong-bengong di rumah atau tongkrongan (depan warung). Dahulu, objek wisata kami adalah kolam renang di Pondok Indah. Benar adanya kalo anak Betawi gede gengsi, nggak mau teman-teman saya diajak berenang di kolam renang biasa maunya di-yang-agak-mahal. Renang di Pondok Indah waktu itu ukurannya emang masih cukup mahal. Nggak mau rugi, kami akan berenang hingga Maghrib tiba. Bertahun-tahun seperti itu, menjelang besar dikit objek wisata kami pun ganti. Kali ini kami mau yang agak jauh dan di luar Jakarta, Bandung jadi objek yang berikutnya. Rutinitas semacam ini berhenti ketika kami beranjak dewasa. Beberapa teman sudah bekerja sehingga sulit mengatur jadwal untuk kembali berekreasi bersama.

Alhamdulillah kemarin beberapa teman ikut, walaupun sebenarnya jalan-jalan kali ini diprakarsai bukan oleh kami melainkan pihak masjid. Salah satu pertimbangan saya ikut memang berapa banyak teman-teman yang ikut. Tawa mulai pecah ketika kami berkumpul di masjid lalu berjalan menuju tempat parkir bus. Ada saja istilah dan kata-kata lucu yang dibuatnya. Mungkin kalo mereka dites tingkat kreativitasnya dengan menggunakan TKV Ibu Munandar akan cukup tinggi tingkat kreativitas verbal mereka. Ohya sekali lagi, percayalah kalo anak Betawi memang gede gengsi. Hari ini kami akan jalan-jalan menggunakan bus yang cukup mahal dan saya yakin itu atas usul teman-teman saya. Nggak akan mereka mau ikut kalo bukan naik si "Burung Besar". 

Kami semua duduk di bangku belakang. Mping, saya, Abo, Betet, Benga, Nuang, dan Kiki duduk berjejer agak acak dari yang seharusnya. Kalo di kampus saya adalah salah satu anak paling koplak, maka di rumah saya kalah saing dengan mereka. Meminjam term klasifikasi jenis temparemen anak maka saya masuk ke golongan slow to warm-up yang artinya agak lambat 'panas'. Di awal perjalanan saya diem, sekedar tawa-tawa kalo mereka pada ngebanyol. Nggak jauh dari kami duduk kebetulan ada marbot (penjaga) masjid yang duduk bersama kecengannya. Kiranya itu cukup jadi stimulasi yang bikin kami (termasuk saya) tawa ngakak di dalam bus selama perjalanan. Saya yang tadinya cuma diam sambil membaca buku pun sudah mulai berani ngebanyol. 

Walaupun di luar bus kami berpisah dengan si marbot dan kecengannya, bukan berarti kami tanpa tawa. Rasanya apa yang akan dilakukan bersama mereka memang penuh tawa, cukup banyak stimulasi yang bisa dijadikan bahan tawa. Ketika kami usai makan di salah satu tempat makan, salah satu teman bertanya pada Mba Pramusaji, "Kak rumah hantu dimana ya?" Memanggil dengan istilah kakak adalah salah satu modus yang dilakukan oleh teman saya. Si Mba menjelaskan rumah hantu dimana dengan tangannya. Usai dijawab teman kembali bertanya, kali ini hanya untuk ngeledek "Kalo rumah saya dimana Ka?" Tanpa sempat si Mba menjawab kami pun berjalan sambil tawa ngakak. Selama berjalan menuju rumah hantu pun ada-ada saja yang dikatakan mereka yang kalo saya ceritain di sini pasti jadi agak kurang lucu. 

Tiket rumah hantu sudah di tangan. Kami masuk berbarengan dengan saling memegang pundak. Semenjak dari luar kami memang menetapkan bahwa tujuan kami masuk rumah hantu sekedar untuk "ngerjain" hantu di dalam. Agak aneh? Memang! Itulah teman-teman saya. Benar saja, di dalam rumah hantu si hantu abis "dikerjain" oleh teman-teman. Kami berteriak berlebihan dan akan meninju apabila si hantu adalah sosok manusia. Benar-benar sungguh malang nasib si hantu. Kami kembali menuju tempat berkumpul, tidur di rumput dengan sepoy angin sambil saling ngebanyol satu sama lain. Sejenak situasi menjadi hening ketika beberapa dari kami tidur pulas. Tawa kembali pecah selama perjalanan pulang. Lagi, si marbot masjid jadi bahan ledekan kami.

Walaupun selama perjalanan pulang rasanya perut saya sakit bukan main, saya nggak melewatkan satu pun momen koplak untuk dinikmati. Bergabung bersama mereka benar-benar hiburan sebelum segala kesibukan kampus datang. Bukan berarti kesibukan kampus nggak bisa menghibur tapi mereka (teman-teman) saya punya cara berbeda untuk menghibur. Seperti yang kemudian saya tulis di twitter, "di kampus emang punya teman untuk koplakan bareng-bareng, tapi koplaknya teman rumahlah yang jawara!" Tak perlu banyak penjelasan yang harus diberikan ketika sedang koplak-koplakan bersama teman rumah. Sangat berbeda dengan teman kampus yang ketika diajak bercanda suka nggak ngeh atau suka nanya, "kok begitu?" HAHAHA

Sesungguhnya tak hanya tawa yang saya dapat dari mereka, namun juga sudut pandang dalam melihat satu masalah. Setidaknya saya jadi tahu bagaimana anak-enggak-kuliah memandang masalah A dan anak-kuliahan memandang masalah A, bagaimana anak-kampung memandang masalah B dan anak-rumahan memandang masalah B, bagaimana teman rumah berbicara soal praktik dan teman kampus berbicara soal teori. Entah mana yang lebih baik, namun yang pasti itu cukup bagi saya untuk belajar menyeimbangkan diri dan sudut pandang. Beruntung sekali berteman dengan mereka. Beruntung sekali menjadi anak kampung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar